Sabtu, 16 Oktober 2010
Kumulai langkahku bersama sahabat sehati, Difeb dan Salmi, meski judge ‘tidak setia kawan’ Hijas lontarkan untuk kami.. Jas, perlu kau tahu, persepsi kita tak sama mengenai kesetiakawanan.. Maaf, tak bermaksud untuk itu sodara.. Hanya saja untuk melakukan sesuatu ada kalanya kita tak harus menunggu! Seulas senyum kulontarkan kala mengingatnya.. :))
Jadilah kami bertiga berangkat lebih dulu.. Kami naik pete-pete liar, kawan.. Kau tahu? Pete-pete liar julukan buat pete-pete yang tak kami kenal dan tak kami charter.. Ohoho.. Biasanya kan kita orang naik mobil charteran.. Ckckck.. :)) Lantunan irama syahdu menemani perjalanan kami.. Kadang turut bernyanyi kecil jika kami tahu liriknya, meski tak merdu.. Hihihi..
Sampai di Limbung, kami tetap berempat dengan seorang gadis berbaju seragam pramuka, berlima dengan Pak Sopir lebih tepatnya.. Ehehe.. Klo kami lebih suka sedikit seperti ini, tapi tentu berbeda halnya dengan Pak Sopir.. Jelas iya kan? Kebutuhan orang kan beda-beda.. Terkadang untuk mendapat beberapa penumpang lainnya, Pak Sopir rela menunggu, seperti yang dilakukannya tadi.. Kesabaran Pak Sopir membuahkan hasil, 2 penumpang kini telah duduk bersama kami, ditambah beberapa penumpang lainnya.. :))
Tak apa kan saya bercerita banyak? Ehehe.. Pengalaman baru menanti kami.. :D Berpetualang memang asyik! Hobi yang tak dapat kuhapus dari diriku, bahkan mungkin sudah kutularkan pada orang-orang sekitarku..
Kami turun dari pete-pete liar tepat di depan Agung.. Ya, sengaja memang! Karena kami tahu, MARI masih tutup.. Ohoho.. Kami masuk ke Agung lebih dulu, yang kami cari hanya pensil stabilo dan penghapusnya.. Sekalian membeli note book.. Simple kan yang kami cari? Itu karena kalian tak tahu, kami hanya membawa uang seadanya.. Ckckck.. Uang pas-pasan kodong.. Menabung di Bank membuatku krisis keuangan saat ini.. Ehehe.. Setelah kebutuhan kami di Agung sudah terpenuhi, kami kemudian melangkahkan kaki ke MARI.. :))
Pelataran MARI masih sepi, hanya sedikit orang yang berkeliaran.. Benar dugaan kami, MARI belum buka.. Ckckck.. Moment ini kami manfaatkan untuk berfoto ria.. *kebiasaan.. Tak seru jika tak mengabadikannya..
Tak lama di pelataran, akhirnya kami masuk juga! Tujuan utama kami, MATSURI JEPANG.. Festival yang tak mungkin kami lewatkan begitu saja… :)) Alhamdulillah matsurinya blm ramee.. Ehehe.. Ini menguntungkan kami, kami bebas untuk saat ini, setidaknya kami tak perlu berdesak-desakan.. Di sana kami temui Yuriko sensei, dari kak Yuriko-lah info matsuri ini kami ketahui.. Makasih kak Yuriko.. :)) Budaya Jepang turut menyeruak menyambut kedatangan kami, kedatangan pemudi nun hijau yang sangat ingin menginjakkan kaki di negeri Sakura, negeri Matahari Terbit..
@Matsuri, kutemukan keramahan, keramahan bangsa Jepang..
Kutemui Taeko san; kakak yang masih sangat muda menurutku, saat ini kak Taeko berkecimpung di dunia pendidikan SLB di Maros, baru setahun Taeko san di Indonesia..
Ota sensei; dosen sastra Jepang di UNHAS, beliau terlihat berwibawa.. :))
Osawa san; mengajari kami tentang ulat sutra yang katanya membutuhkan 20 hari untuk dapat berkembang dari telur hingga dewasa..
Ichiki san; kakek pembudidaya rumput laut di Takalar, menyuguhi kami kue rumput laut yang agak asing dilidahku, mungkin karena ini kali pertama aku mencicipinya..
Ema san; sensei masakan Jepang yang terlihat anggun dengan kimono yang dikenakannya.. Kami sempat berfoto dengannya.. :))
Michiko san; nenek yang pandai menari, sungguh lucu tarian Jepang itu, tarian yang kami saksikan sangat unik, especially tarian Dojo Sukui, hanya Michiko san yang mampu menarikannya.. Tanko Bushi dan Zundoko Bushi tak kalah menariknya.. Kami turut menarikan tari Zundoko Bushi, 2 kali malah, ini karena dorongan Lee’, lagi-lagi sahabatku ini kembali memengaruhiku untuk menari lagi.. Benar-benar aneh, mau saja saya menurutinya, itulah yang tak kumengerti pada diriku yang tak mau menolak hal-hal aneh.. :)) Sampai-sampai kepalaku pusing dibuatnya.. Keliling, mutar-mutar, itu yang kami lakukan sambil melambaikan tangan.. Agak kaku memang, tapi asyik sekali!
Selanjutnya, Sekiguchi san; kakak wartawan Jepang yang saat ini bertempat di Jakarta, jauh juga ya kakak Sekiguchi ke Makassarnya? Oia, tak hanya sekedar berkenalan, kami juga diwawancarai olehnya.. Lucu menggelikan jika ditanyai olehnya dengan memakai bahasa Jepang.. Kami hanya mengangguk tak paham, hingga membuat kami bertanya akan artinya.. Ehehe.. Kami tak tahu banyak tentang Nihongo kakak.. Hihihi..
Naoriko san; sensei yang kini bertugas di SMPN 2 Takalar.. Aku pernah bertemu dengannya di sana.. Naoriko sensei mengajari kami cara membuat Topi Samurai.. J Senang sekali, dapat pelajaran origami..
Aya san; perawat yang ramah.. Ada banyak perawat yang namanya tak dapat kusebut satu-satu.. Kau tahu? Kami diajari cara mencuci tangan yang baik.. Caranya mudah, kawan, kira-kira seperti ini:
Waktu mengalir tak terbendung, sudah puas kami! Foto juga sudah menggunung.. Ckckck.. Kami sudah bisa menikmati aroma negeri Sakura, melihat aneka macam khas Jepang, meski sesungguhnya Jepang belum kami jejaki.. Indahnya bercengkrama dengan kakak, kakek, dan nenek yang baik dan ramah..
Perlu kalian ketahui, bolak-balik Hero sudah kami lakoni semenjak rasa haus menghampiri kami.. Ke Gramedia juga sudah, hanya Godhand Teru yang aku dan Difeb beli.. Maklum, kami lagi berhemat habis-habisan.. Ehehe..
Hmm.. Saatnya berpamitan dengan Yuriko sensei.. Sebelum pulang, kusempatkan diri untuk memakai baju Jepang, tapi bukan kimono.. Ohoho.. Kawan, kulangkahkan kaki untuk pulang, mengakhiri petualangan kami hari ini.. :))

Kumulai langkahku bersama sahabat sehati, Difeb dan Salmi, meski judge ‘tidak setia kawan’ Hijas lontarkan untuk kami.. Jas, perlu kau tahu, persepsi kita tak sama mengenai kesetiakawanan.. Maaf, tak bermaksud untuk itu sodara.. Hanya saja untuk melakukan sesuatu ada kalanya kita tak harus menunggu! Seulas senyum kulontarkan kala mengingatnya.. :))
Jadilah kami bertiga berangkat lebih dulu.. Kami naik pete-pete liar, kawan.. Kau tahu? Pete-pete liar julukan buat pete-pete yang tak kami kenal dan tak kami charter.. Ohoho.. Biasanya kan kita orang naik mobil charteran.. Ckckck.. :)) Lantunan irama syahdu menemani perjalanan kami.. Kadang turut bernyanyi kecil jika kami tahu liriknya, meski tak merdu.. Hihihi..
Sampai di Limbung, kami tetap berempat dengan seorang gadis berbaju seragam pramuka, berlima dengan Pak Sopir lebih tepatnya.. Ehehe.. Klo kami lebih suka sedikit seperti ini, tapi tentu berbeda halnya dengan Pak Sopir.. Jelas iya kan? Kebutuhan orang kan beda-beda.. Terkadang untuk mendapat beberapa penumpang lainnya, Pak Sopir rela menunggu, seperti yang dilakukannya tadi.. Kesabaran Pak Sopir membuahkan hasil, 2 penumpang kini telah duduk bersama kami, ditambah beberapa penumpang lainnya.. :))
Tak apa kan saya bercerita banyak? Ehehe.. Pengalaman baru menanti kami.. :D Berpetualang memang asyik! Hobi yang tak dapat kuhapus dari diriku, bahkan mungkin sudah kutularkan pada orang-orang sekitarku..
Kami turun dari pete-pete liar tepat di depan Agung.. Ya, sengaja memang! Karena kami tahu, MARI masih tutup.. Ohoho.. Kami masuk ke Agung lebih dulu, yang kami cari hanya pensil stabilo dan penghapusnya.. Sekalian membeli note book.. Simple kan yang kami cari? Itu karena kalian tak tahu, kami hanya membawa uang seadanya.. Ckckck.. Uang pas-pasan kodong.. Menabung di Bank membuatku krisis keuangan saat ini.. Ehehe.. Setelah kebutuhan kami di Agung sudah terpenuhi, kami kemudian melangkahkan kaki ke MARI.. :))
Pelataran MARI masih sepi, hanya sedikit orang yang berkeliaran.. Benar dugaan kami, MARI belum buka.. Ckckck.. Moment ini kami manfaatkan untuk berfoto ria.. *kebiasaan.. Tak seru jika tak mengabadikannya..
Tak lama di pelataran, akhirnya kami masuk juga! Tujuan utama kami, MATSURI JEPANG.. Festival yang tak mungkin kami lewatkan begitu saja… :)) Alhamdulillah matsurinya blm ramee.. Ehehe.. Ini menguntungkan kami, kami bebas untuk saat ini, setidaknya kami tak perlu berdesak-desakan.. Di sana kami temui Yuriko sensei, dari kak Yuriko-lah info matsuri ini kami ketahui.. Makasih kak Yuriko.. :)) Budaya Jepang turut menyeruak menyambut kedatangan kami, kedatangan pemudi nun hijau yang sangat ingin menginjakkan kaki di negeri Sakura, negeri Matahari Terbit..
@Matsuri, kutemukan keramahan, keramahan bangsa Jepang..
Kutemui Taeko san; kakak yang masih sangat muda menurutku, saat ini kak Taeko berkecimpung di dunia pendidikan SLB di Maros, baru setahun Taeko san di Indonesia..
Ota sensei; dosen sastra Jepang di UNHAS, beliau terlihat berwibawa.. :))
Osawa san; mengajari kami tentang ulat sutra yang katanya membutuhkan 20 hari untuk dapat berkembang dari telur hingga dewasa..
Ichiki san; kakek pembudidaya rumput laut di Takalar, menyuguhi kami kue rumput laut yang agak asing dilidahku, mungkin karena ini kali pertama aku mencicipinya..
Ema san; sensei masakan Jepang yang terlihat anggun dengan kimono yang dikenakannya.. Kami sempat berfoto dengannya.. :))
Michiko san; nenek yang pandai menari, sungguh lucu tarian Jepang itu, tarian yang kami saksikan sangat unik, especially tarian Dojo Sukui, hanya Michiko san yang mampu menarikannya.. Tanko Bushi dan Zundoko Bushi tak kalah menariknya.. Kami turut menarikan tari Zundoko Bushi, 2 kali malah, ini karena dorongan Lee’, lagi-lagi sahabatku ini kembali memengaruhiku untuk menari lagi.. Benar-benar aneh, mau saja saya menurutinya, itulah yang tak kumengerti pada diriku yang tak mau menolak hal-hal aneh.. :)) Sampai-sampai kepalaku pusing dibuatnya.. Keliling, mutar-mutar, itu yang kami lakukan sambil melambaikan tangan.. Agak kaku memang, tapi asyik sekali!
Selanjutnya, Sekiguchi san; kakak wartawan Jepang yang saat ini bertempat di Jakarta, jauh juga ya kakak Sekiguchi ke Makassarnya? Oia, tak hanya sekedar berkenalan, kami juga diwawancarai olehnya.. Lucu menggelikan jika ditanyai olehnya dengan memakai bahasa Jepang.. Kami hanya mengangguk tak paham, hingga membuat kami bertanya akan artinya.. Ehehe.. Kami tak tahu banyak tentang Nihongo kakak.. Hihihi..
Naoriko san; sensei yang kini bertugas di SMPN 2 Takalar.. Aku pernah bertemu dengannya di sana.. Naoriko sensei mengajari kami cara membuat Topi Samurai.. J Senang sekali, dapat pelajaran origami..
Aya san; perawat yang ramah.. Ada banyak perawat yang namanya tak dapat kusebut satu-satu.. Kau tahu? Kami diajari cara mencuci tangan yang baik.. Caranya mudah, kawan, kira-kira seperti ini:
- Digosok
- Kura-kura
- Gunung-gunung
- Kucing
- Motor
- Jam tangan
- Dicuci
- Keringkan
Waktu mengalir tak terbendung, sudah puas kami! Foto juga sudah menggunung.. Ckckck.. Kami sudah bisa menikmati aroma negeri Sakura, melihat aneka macam khas Jepang, meski sesungguhnya Jepang belum kami jejaki.. Indahnya bercengkrama dengan kakak, kakek, dan nenek yang baik dan ramah..
Perlu kalian ketahui, bolak-balik Hero sudah kami lakoni semenjak rasa haus menghampiri kami.. Ke Gramedia juga sudah, hanya Godhand Teru yang aku dan Difeb beli.. Maklum, kami lagi berhemat habis-habisan.. Ehehe..
Hmm.. Saatnya berpamitan dengan Yuriko sensei.. Sebelum pulang, kusempatkan diri untuk memakai baju Jepang, tapi bukan kimono.. Ohoho.. Kawan, kulangkahkan kaki untuk pulang, mengakhiri petualangan kami hari ini.. :))

Tarian Jepang..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar